MEMAHAMI JENIS-JENIS LONGSORAN

Gerakan tanah adalah suatu gerakan menuruni lereng oleh massa tanah dan atau batuan penyusun lereng. Definisi di atas dapat menunjukkan bahwa massa yang bergerak dapat berupa massa tanah, massa batuan ataupun percampuran antara keduanya. Masyarakat pada umumnya menerapkan istilah longsoran untuk seluruh jenis gerakan tanah, baik yang melalui bidang gelincir ataupun tidak. 
 
(Varnes, 1978) secara definitif juga menerapkan istilah longsoran ini untuk seluruh jenis gerakan tanah. Gerakan tanah merupakan salah satu proses geologi yang terjadi akibat interaksi beberapa kondisi antara lain geomorfologi, struktur geologi, hidrogeologi dan tata guna lahan. Kondisi tersebut saling berpengaruh sehingga mewujudkan kondisi lereng yang cenderung bergerak (Karnawati, 2007). 
 
Mengenai Longsoran sangat bergantung kepada Faktor Keamanan Kestabilan Lereng yang dipengaruhi oleh geometri lereng, struktur batuan, sifat fisik dan mekanik batuan serta gaya luar yang bekerja pada lereng tersebut. Kestabilan lereng tergantung pada gaya penggerak dan gaya penahan yang bekerja pada bidang gelincir tersebut. 
 
Gaya penahan (resisting force) adalah gaya yang menahan agar tidak terjadi kelongsoran, sedangkan gaya penggerak (driving force) adalah gaya yang menyebabkan terjadinya longsoran. Perbandingan antara gaya-gaya penahan terhadap gaya-gaya yang menggerakkan tanah inilah yang disebut dengan faktor keamanan (FK) lereng penambangan (Hoek and Bray, 1981). 
 
 FK = τf/τd 
 Keterangan :
 FK : Faktor Kestabilan Lereng
 τd : Gaya Penahan, berupa resultan gaya-gaya yang membuat lereng tetap stabil
 τf : Gaya Penggerak, berupa resultan gaya-gaya penyebab kelongsoran.
 
Pada penggalian awal, umumnya material yang digali adalah tanah. Karakteristik mekanis tanah yang lemah menyebabkan tanah mudah longsor. Tetapi jika penggalian dilakukan lebih dalam, maka akan ditemukan suatu zona campuran antara tanah dengan boulder batuan. 
 
Pada zona ini seringkali terjadi kelongsoran yang tidak terduga, karena selain karakteristik mekanis material pada zona ini sangat beragam, juga reaksi terhadap penggalian beragam. Berdasarkan keadaan tersebut, dapat menciptakan beberapa macam kelongsoran, antara lain :

1.    Longsoran Bidang

Longsoran bidang merupakan suatu longsoran batuan yang terjadi sepanjang bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut dapat berupa bidang kekar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan batuan. Syarat-syarat terjadinya longsoran bidang :

a. Terdapat bidang lincir bebas (daylight) berarti kemiringan bidang lurus lebih kecil daripada kemiringan lereng.

b. Arah bidang perlapisan (bidang lemah) sejajar atau mendekati dengan arah lereng. 

c. Kemiringan bidang luncur atau lebih besar daripada sudut geser dalam batuannya. 

d. Terdapat bidang geser (tidak terdapat gaya penahan) pada kedua sisi longsoran.

 

2. Longsoran Baji

Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika lebih dari satu bidang lemah yang bebas dan saling berpotongan. Sudut perpotongan antara bidang lemah tersebut lebih besar dari sudut geser dalam batuannya. Bidang lemah ini dapat berupa bidang sesar, rekahan (joint) maupun bidang perlapisan. Cara longsoran baji dapat melalui satu atau beberapa bidang lemahnya maupun melalui garis perpotongan kedua bidang lemahnya. Longsoran baji dapat terjadi dengan syarat geometri sebagai berikut :

a. Permukaan bidang lemah A dan bidang lemah B rata, tetapi kemiringan bidang lemah B lebih besar daripada bidang lemah A. 

b. Arah penunjaman garis potong harus lebih kecil daripada sudut kemiringan lereng. 

c. Bentuk longsoran dibatasi oleh muka lereng, bagian atas lereng dan kedua bidang lemah.

 

3. Longsoran Busur

Longsoran busur adalah yang paling umum terjadi di alam, terutama pada batuan yang lunak (tanah). Pada batuan yang keras longsoran busur hanya terjadi jika batuan tersebut sudah mengalami pelapukan dan mempunyai bidang-bidang lemah (rekahan) yang sangat rapat dan tidak dapat dikenali lagi kedudukannya. 

Pada longsoran bidang dan baji, kelongsoran dipengaruhi oleh struktur bidang perlapisan dan kekar yang membagi tubuh batuan kedalam massa diskontinuitas. Pada tanah pola strukturnya tidak menentu dan bidang gelincir bebas mencari posisi yang paling kecil hambatannya. 

Longsoran busur akan terjadi jika partikel individu pada suatu tanah atau massa batuan sangat kecil dan tidak saling mengikat. Oleh karena itu batuan yang telah lapuk cenderung bersifat seperti tanah. 

Tanda pertama suatu longsoran busur biasanya berupa suatu rekahan tarik permukaan atas atau muka lereng, kadang-kadang disertai dengan menurunnya sebagian permukaan atas lereng yang berada disamping rekahan. 

Penurunan ini menandakan adanya gerakan lereng yang pada akhirnya akan terjadi kelongsoran lereng, hanya dapat dilakukan apabila belum terjadi gerakan lereng tersebut .

4. Longsoran Guling 

Longsoran guling terjadi pada batuan yang keras dan memiliki lereng terjal dengan bidang-bidang lemah yang tegak atau hampir tegak dan arahnya berlawanan dengan arah kemiringan lereng. Longsoran ini bisa berbentuk blok atau bertingkat. Kondisi untuk menggelincir atau meluncur ditentukan oleh sudut geser dalam dan kemiringan bidang luncurnya, tinggi balok dan lebar balok terletak pada bidang miring.


 

Jangan Lupa Kunjungi Kampus Kami Disini.

Kunjungi Informasi Saya : Klik.





https://www.zooclub.ru/redir.php?to=https://upr.ac.id
https://www.winemax.ie/trigger.php?r_link=https://upr.ac.id
https://www.weichert.com/links.aspx?url=https://upr.ac.id
https://www.veggiedate.org/webpage.cfm?linkpage=upr.ac.id


Komentar